Wawancara: Pengalaman Kuliah Teknik Industri ITB Tahun Pertama (dari Alumni)
Risa, alumni TI ITB angkatan 2022, cerita realita tahun pertama: mata kuliah ngeri, organisasi, dan tips bertahan untuk maba.
Banyak adek SMA tertarik Teknik Industri ITB (one of the most-applied jurusan di ITB). Tapi gambar kuliahnya seringkali "rumor" — kakak satu bilang gampang, kakak lain bilang ngeri.
Saya ngobrol dengan Risa (bukan nama sebenarnya), mahasiswi TI ITB angkatan 2022. Berikut hasil interview-nya (sudah di-edit untuk readability).
Q: Kenapa pilih TI ITB? Apa ekspektasi awal?
Risa: Jujur, awalnya saya pilih TI ITB karena prospek karir luas. Saya gak yakin mau jadi insinyur murni (kayak Sipil atau Mesin), tapi suka sama matematika dan ngerasa bisa jadi konsultan/manajer. TI keliatan kayak "middle ground" yang aman.
Saya pikir kuliah TI akan banyak business case studies, kayak di MBA. Ternyata... beda jauh sama ekspektasi.
Q: Beda jauh gimana?
Risa: Semester 1 ITB itu TPB (Tahun Pertama Bersama). Semua jurusan rumpun sains-teknologi belajar sama: Kalkulus, Fisika Dasar, Kimia Dasar, Bahasa Inggris.
Saya kaget. Fisika & Kimia tahun pertama itu lebih sulit dari SMA. Kalkulus juga. Banyak materi yang baru pertama saya dengar.
Yang bikin tambah stress: ada Pemrograman Dasar juga di semester 1. Saya gak punya background coding sama sekali. Banyak teman dari SMA yang sudah coding sejak kecil, sementara saya masih bingung apa itu "variable".
Q: Berapa jam belajar per hari di tahun pertama?
Risa: Rata-rata 6-8 jam per hari (di luar jam kuliah).
Schedule typical saya:
- 7-12 pagi: kuliah
- 12-1 siang: makan + istirahat
- 1-5 sore: kuliah / praktikum
- 5-7 malam: olahraga atau organisasi
- 7-10 malam: belajar (PR, baca textbook)
- 10-12 malam: nyicil tugas
Weekend? Tetap belajar. Ada midterm/UAS yang siap menjajah weekend.
Banyak yang bertahan dengan minimal istirahat semester 1, lalu sakit & burnout di semester 2. Saya juga sempat begitu.
Q: Apa yang paling sulit di tahun pertama?
Risa: Tiga hal:
1. Adaptasi metode belajar. Di SMA, guru ngajar suap. Di ITB, dosen biasanya lewat dengan cepat, asumsinya kamu baca textbook duluan. Banyak yang gak siap dengan "self-learning" tingkat tinggi.
2. Social pressure. Semua sekitar kamu mahasiswa pinter. Yang di SMA biasa juara kelas, di ITB cuma rata-rata. Imposter syndrome real banget.
3. Beratnya beban kerja. Tugas tiap minggu dari 5-6 mata kuliah. Plus praktikum. Plus laporan. Time management jadi krusial.
Q: Tips untuk yang mau masuk TI ITB?
Risa: 5 tips yang saya kasih:
1. Kuasai matematika SMA dengan sangat baik. Kalkulus tahun pertama akan terasa kayak terjun bebas kalau matematika SMA cuma "lulus". Khususnya: limit, turunan, integral, trigonometri.
2. Mulai coding minimal dari semester 6 SMA. Bukan harus expert. Tapi setidaknya tau apa itu variable, loop, function. Pelajari Python dasar lewat YouTube. Akan save you a lot of pain di Pemrograman Dasar.
3. Latih kemampuan baca textbook bahasa Inggris. Banyak textbook engineering basicnya bahasa Inggris. Kalau kamu lemot baca English, time-management hancur. Mulai baca artikel teknik di English sekarang.
4. Jaga kesehatan mental sejak hari pertama. ITB punya konselor kampus gratis — pakai itu. Banyak senior yang menyesal tidak konsultasi early dan berakhir cuti karena depresi/burnout.
5. Punya support system di luar kampus. Jaga komunikasi sama orangtua, teman SMA. Karena ITB bisa terasa sangat isolating, dan kamu butuh orang yang ingatin "hidup itu bukan cuma IPK".
Q: Worth it gak masuk TI ITB?
Risa: Honest answer: worth it kalau kamu siap struggle 4 tahun. TI ITB membuka banyak pintu — banyak alumni jadi konsultan McKinsey, BCG, atau founders startup. Network alumni-nya kuat.
Tapi gak worth it kalau:
- Kamu pilih cuma karena prestise nama "ITB"
- Kamu gak suka matematika & pemikiran kuantitatif
- Mental health kamu fragile dan gak siap pressure
Yang penting: pilih jurusan karena kamu mau struggle untuk itu, bukan karena nama besarnya.
Q: Last message untuk SMA yang mau apply?
Risa: Datang ke ITB dengan ekspektasi kamu akan banyak gagal. Itu normal. Yang penting kamu bangkit terus.
Tahun pertama TI ITB akan ngancurin kepercayaan diri kamu — itu sebenarnya fitur, bukan bug. Yang lolos & tetap waras adalah yang bisa adapt dan tetep belajar walaupun pelajaran rasa kayak naga keluar dari neraka.
You got this. Tapi mulai persiapkan sekarang. ✊
Catatan Editor
Wawancara ini adalah 1 perspektif dari banyak alumni TI ITB. Setiap orang punya pengalaman berbeda — ada yang merasa TI ITB chill, ada yang merasa neraka. Yang konsisten: butuh effort tinggi.
Mau wawancara alumni jurusan lain? Pantau kategori Cerita Kakak Senior untuk update mingguan.
Tertarik berbagi cerita kuliah kamu? Kontak admin via WhatsApp di profile.
📝 Catatan Penting
Info dalam artikel ini dapat berubah (deadline, persyaratan, skor passing grade, dll). Selalu konfirmasi ke sumber resmi sebelum keputusan penting. Wawancara/cerita yang tidak menyebut sumber spesifik adalah ilustrasi untuk membantu pemahaman.
💬 Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!